Kiamat adalah akhir dari segalanya, Tapi kiamat juga masi lama!
Siapapun didunia ini tidak ada yang tahu kapan terjadinya kiamat, dan siapapun itu tidak akan ada yang pernah selamat dari kiamat. Tapi kiamat itu sebenarnya bukan sudah dekat, melainkan kiamat itu sendiri sudah terjadi.
Ini bukan soal bagaimana bentuk dari pada kiamat, dan ini juga bukan masalah waktunya sudah tiba atau belum, Tapi kiamat itu sungguh sudah terjadi, dan tidak ada yang menyadarinya, karna tidak ada yang tau waktunya, dan bagaimana kejadiannya.
Kiamat itu bukan sekedar ditiupnya sangkakala, Tapi kiamat itu juga adalah akhir dari sebuah kehidupan manusia, Kenapa masi lama?, Karna tidak ada yang tau, dan belum ada yang pernah lihat. Tapi mungkin sudah ada yang merasakan, Tapi tidak tau cara menceritakannya, dan bahkan tidak ada mengerti atau melihat dengan jelas bagaimana sebenarnya kiamat itu sendiri.
Tiada cara melewatinya, Karna semua merasakannya. Kiamat tidak pernah terjadi, Tapi sudah terjadi. Kiamat bukan masi lama, Tapi sudah didepan mata.
Makna Reflektif
Tulisan ini bukan tentang kiamat sebagai peristiwa, melainkan sebagai pengalaman yang diam-diam berlangsung di dalam keberadaan manusia. Kiamat tidak hadir sebagai ledakan akhir, tetapi sebagai proses sunyi yang terus menggerus makna, waktu, dan kesadaran tanpa disadari.
Manusia hidup dalam ilusi keberlanjutan—seolah segala sesuatu masih berjalan menuju sesuatu. Padahal, mungkin yang terjadi justru sebaliknya: segala sesuatu sedang berakhir, perlahan, tanpa tanda yang bisa dikenali sebagai akhir.
Ketidaktahuan bukanlah kegagalan manusia, melainkan kondisi alami yang membungkus keberadaannya. Dan dalam selimut ketidaktahuan itu, hanya ada satu celah kecil yang sesekali terbuka ketakutan. Bukan ketakutan akan sesuatu yang jelas, tetapi ketakutan yang muncul tanpa bentuk, tanpa sebab yang bisa dijelaskan.
Di sanalah manusia sesaat “terbangun”. Bukan untuk memahami, tetapi untuk merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam cara ia memaknai dunia. Namun kesadaran itu tidak bertahan lama. Ia tenggelam kembali, larut dalam rutinitas, dalam keyakinan semu bahwa hidup masih berjalan sebagaimana mestinya.
Jika memang tidak ada yang benar-benar bertahan, maka kiamat bukanlah sesuatu yang akan datang. Ia adalah sesuatu yang sudah terjadi dan terus terjadi di setiap detik yang tidak pernah benar-benar kita miliki.
Dan mungkin, satu-satunya yang bisa dilakukan manusia bukanlah memahami kiamat, tetapi sesekali merasakan retaknya… sebelum kembali lupa.