Kekosongan bukan karna ketidak adaannya tuhan
Terkadang kita merasa bahwa kesepian adalah salah satu hal yang menenangkan, Tapi kenyataannya kita tidak pernah kesepian atau sendirian. Karna selalu ada yang bersama kita, jaraknya tidak sejauh antara ujung rambut dan ujung kaki, Melainkan sangat dekat, amat dekat dan saking dekatnya kita tidak pernah tahu, atau menyadarinya.
Namun begitu sebaliknya, apa yang kita kira berada dikeramain, Sebenarnya kita sama sekali tidak sedang berkumpul dengan siapa-siapa, Melainkan disibukkan dengan kesibukannya masing-masing, dan bahkan, kalau kita kira dalam keramaian itu kita sudah merasa dekat, Maka selamat, itu adalah jarak kedekatan yang tak akan pernah dekat.
~ End ~
Makna / Catatan Reflektif
Tulisan ini berbicara tentang sebuah paradoks yang sering luput kita sadari: manusia merasa kosong bukan karena Tuhan tidak ada, tetapi karena manusia terlalu sibuk untuk menyadari kedekatan-Nya.
Kesepian sering dianggap sebagai keadaan ketika seseorang tidak memiliki siapa pun di sekitarnya. Namun dalam kenyataannya, manusia hampir tidak pernah benar-benar sendirian. Ada kehadiran yang jauh lebih dekat daripada jarak tubuhnya sendiri—begitu dekat sehingga justru tidak terlihat oleh kesadaran yang sibuk.
Di sisi lain, keramaian yang kita anggap sebagai kebersamaan sering kali hanya menjadi kumpulan kesibukan yang berdiri sendiri-sendiri. Orang-orang berada dalam satu ruang, tetapi tidak benar-benar saling hadir. Kedekatan yang terlihat itu sebenarnya menyimpan jarak yang tidak pernah dipertemukan.
Dalam keadaan seperti itu, manusia berusaha menghindari kesunyian. Bukan karena sunyi itu menakutkan, tetapi karena dalam keheningan itulah kesadaran bisa mulai melihat sesuatu yang selama ini diabaikan: bahwa Tuhan tidak pernah jauh.
Kekosongan akhirnya bukanlah bukti bahwa Tuhan tidak ada. Kekosongan hanya menunjukkan bahwa manusia belum berani menyadari kedekatan yang selama ini sudah ada bersamanya.