Dia yang menciptakan, Dia juga yang diciptakan
Dia yang menciptakan, Dia juga yang diciptakan
Segala sesuatu di dunia ini ada karna diciptakan, karna dihidupkan, bukan karna dari ketidak adaan apa-apa, Tapi dari ketidak adaan menjadi ada. Kemudian bagaimana katanya dia yang tidak diadakan, Tapi sudah ada, Sebelum ada.
Apakah mungkin dari sebuah ketidak adaan, Menjadi ada itu berlaku untuk segalanya? Jawabannya Tidak!
Justru dialah yang memang ada, Tapi dia yang ditiadakan, Tapi kita yang sebenarnya tidak pernah ada, tanpa keadaannya, maka kita bukanlah apa-apa ketimbang dia yang sudah ada, Tapi ditiadakan.
Makna Reflektif
Dalam segala upaya memahami hidup, manusia sering terjebak pada ilusi bahwa ia bisa sampai pada titik akhir dari pengetahuan. Padahal, semakin ia merasa tahu, semakin ia menjauh dari kesadaran yang jujur—bahwa dirinya tidak pernah benar-benar memahami sepenuhnya.
Kita bukanlah pemilik kesadaran, melainkan hanya tempat di mana kesadaran itu singgah sesaat. Apa yang kita sebut sebagai “sadar” seringkali hanyalah keyakinan yang belum diuji oleh keraguan. Dan justru di sanalah manusia terhenti—ketika ia merasa telah sampai.
Namun, kehidupan tidak pernah dirancang untuk selesai dipahami. Ia adalah perjalanan yang terus bergerak, tanpa ujung yang bisa digenggam. Makna tidak lahir dari jawaban, melainkan dari pencarian yang tidak pernah selesai.
Kita ada, bukan sebagai sesuatu yang utuh dan final, tetapi sebagai bentuk keberadaan yang sedang berlangsung—yang terus didekati oleh kemungkinan untuk sadar, tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Dan mungkin, pada akhirnya, kejujuran tertinggi manusia bukanlah ketika ia mengatakan “aku tahu”, tetapi ketika ia berani mengakui:
bahwa ia akan terus berjalan, tanpa pernah sepenuhnya memahami ke mana ia menuju.